Teori Konseling Realita

A.      NAMA PENDEKATAN

Pendekatan yang dibahas dalam resume ini adalah pendekatan konseling Realita.

B.       SEJARAH PERKEMBANGAN

Konseling realita dicetuskan oleh William Glasser yang lahir pada tahun 1925 dan menghabiskan masa kanak-kanak dan remajanya d Cliveland, Obio. Pertumbuhannya relatif tanpa hambatan, sehingga ia memahami dirinya sebagai lelaki yang baik. Glasser meninggalkan kota kelahirannya setelah ia masuk ke perguruan tinggi. Ia memperoleh gelar sarjana muda dalam bidang rekayasa kimia, sarjana psikologi klinis dan dokter dari case western reserve university. Ia menikah setelah tamat sarjana muda dan setelah sekolah dokter ia memindah keluarganya ke west coast karena memperoleh perumahan di UCLA. Ia membuat rumah pribadi di California Selatan.

Pada tahun 1957, Glasser menduduki posisi kepala spikiatri di California, menangani kenakalan remaja putri Ventura. Ia mulai menerapkan konsep-konsepnya yang telah dimulai di V.A. Hospital. Ia menerapkan program yang menempatkan tanggungjawab situasi sesaat bagi remaja-remaja putri ini dan tanggungjawab atas masa depannya. Aturan-aturan di lembaga ini diperbaharui yakni mengutamakan kebebasan dan memperlunak konsekuensi dari pelanggaran. Hukuman dibatasi dari program. Bila remaja putri ini melanggar peraturan tidak dihukum namun juga tidak diampuni. Alih-alih menghukum atau mengampuni, diberikan tanggungjawab pribadi dan ditanyakan tentang rencana selanjutnya dan dicari kesepakatan atas tingkah laku mereka yang baru. Atas dasar semua ini, Glasser mengharap stafnya untuk melaksanakan penyembuhan melalui terlibat dalam kehidupan konseli, memberikan bantuan dengan penuh pujian yang ikhlas. Program ini terlaksana, staf antusias, remaja putri ini hidup dengan harapan-harapan positif dan ternyata 20% mereke sembuh.

Selanjutnya di V.A hospital, Glasser menerapkan program serupa dan membantu supervisornya. Hasilnya pasien-pasien dalam waktu beberapa tahun mengalami kesembuhan sebanyak 75% dan rata-rata 200 pasien sembuh pada tahun-tahun selanjutnya.

Pada tahun 1961 Glasser mempublikasikan konsep konseling realita dalam bukunya yang pertama Mental Health or Mental Illness. Konsep ini diperluas, diperbaiki dan disusun pada penerbitan tahun 1965: Reality Therapy:A New Approach to Psichiatry. Tidak lam setelah penerbitan yang kedua ini, Glasser membuka Institute of Reality Therapy yang digunakan untuk melatih profesi-profesi layanan kemanusiaan. Sebagai kata sambung atas suksesnya, sekolah-sekolah membutuhkan konsultasi Glasser, dan ia dapat menyesuaikan dengan prosedur-prosedunya dengan setting sekolah. Ia mempublikasikan ide ini dalam School Without Failure (1969) dan mendirikan Educatinal Training Centre yang di dalamnya guru-uru mendapat latihan konseling realita.

C.      HAKIKAT MANUSIA

Glasser tidak memaparkan idenya menjad pokok pikiran, namun ide-idenya dapat disaripatikan menjadi sejumlah pokok pikiran sebagai berikut ini:

  1. Konselor umumnya memandang individu atas dasar tingkah lakunya. Pendekatan realita memandang tingkah laku berdasar pengukuran obyektif, yang disebut realita. Ia berupa realitas praktis dari realitas moral.
  2. Manusia memiliki kebutuhan psikologis tunggal yang disebut kebutuhan akan identitas. Kebutuhan ini meliputi kebutuhan akan merasa adanya keunikan, perbedaan dan kemandirian.
  3. Dasar konseling realita adalah membantu konseli mencapai kebutuhan untuk dicintai dan mencintai serta kebutuhan untuk merasa bahwa kita berharga bagi diri sendiri dari pada orang lain.
  4. Manusia memiliki 3 kekuatan untuk tumbuh yang mendorong menuju identitas sukses, yaitu: mengisi dan memuaskan identitas sukses, menampilkan tingkah laku yang bertanggungjawab dan memiliki hubungan interpersonal yang baik.
  5. Sejalan dengan nomor 4, kekuatan tumbuh bukanlah pembawaan. Dengan kata lain, kekuatan untuk memenuhi kebutuan dilakukan dengan belajar sejak dini.
  6. Konseling realita tidak terikat pada filsafat deterministik dala memandang manusia, tetapi membuat asumsi bahwa pada akhirnya manusia mengarahkan diri sendiri. Prinsip ini berarti mengakui tanggungjawab setiap orang untuk menerima akibat dari tingkah lakunya. Dengan kata lain, orang akan tumbuh bukan ditentukan oleh penentu-penentu yang telah ada.
  7. Realisasi untuk tumbuh dalam rangka memuaskan kebutuhan harus dilandasi oleh prnsip 3R: Right, Responsibility, reality.

D.      PERKEMBANGAN PERILAKU

1)        Struktur Kepribadian

Kepribadian disusun sebagai usaha-usaha individu untuk menemukan kebutuhan fisiologis dan psikologis. Kebutuhan yang paling penting adalah untuk mencintai dari dicintai dari merasa dirinya berharga serta orang lainpun berharga. Setiap orang belajar untuk memenuhi kebutuhan tersebut, yang selanjutnya akan mengembangkan tingkahlaku yang normal yaitu bertanggungjawab dan berorientasi pada realita serta mengidentifikasi diri sebagai individu yang behasil atau sukses. Glasser berpandangan bahwa pemenuhan kebutuhan dasar (cinta dan harga diri) merupakan peristiwa belajar. Dalam kaitan dengan ini, Glasser menekankan peristiwa belajar pada usia 2 sapai 5 tahun dan 5 sampai 6 tahun (Corey, 1982 dalam Fauzan 1994:30). Individu melalui kehidupannya menggunakan prinsip 3 R (Right, merujuk pada ukuran atau norma yang diterima secara umum dimana tingkah laku dapat diperbandingkan, Responsibility, merupakan kemampuan untuk mencapai suatu kebutuhan dan untuk berbuat dalam cara yang tidak merampas keinginan orang lain dalam memenuhi kebutuhan mereka (terkait konteks sosial budaya), Reality, merujuk pada pemahaman individu pada ada dunia nyata bahwa individu harus memenuhi kebutuhannya dalam kernagka kerja tertentu).

2)        Pribadi Sehat dan Bermasalah

  1. Pribadi sehat/ identitas berhasil

Individu disimpulkan memperoleh identitas berhasil adalah individu yang telah terpenuhi kebutuhannya sehingga dapat memerintah kehidupannya sendiri menggunakan prinsip 3 R (Right, Responsilibity, Reality I). Artinya individu dalam memenuhi kebutuhan fisiologis dan psikolois harus mempelajari yang benar, bertingkahlaku secara bertanggungjawab, dan memahami serta menghadapi kenyataan.

  1. Pribadi bermasalah/ tingkah laku salah/tidak tepat

Individu disimpulkan memperoleh identitas gagal ketika individu gagal memenuhi salah satu atau semua kebutuhan dasar dan gagal terlibat dengan orang lain sebagai prasyarat biologis memuaskan kebutuhan dasar.

E.       HAKIKAT KONSELING

Hakekat konseling realita adalah membantu individu mencapai otonomi. Otonomi merupakan keadaan yang menyebabkan orang mampu melepaskan dukungan lingkungan dan menggantikannya dengan dukungan pribadi atau diri sendiri (internal). Kriteria konseling yang sukses bergantung pada tujuan yang ditentukan oleh konseli.

F.       KONDISI PENGUBAHAN

1)        Tujuan

Tujuan umum konseling realita dari sudut pandang konselor menurut Burks (1979) menekankan bahwa konseling realita merupakan bentuk mengajar dan latihan individual secara khusus. Secara luas, konseling membantu konseli dalam mengembangkan sistem atau cara hidup yang kaya akan keberhasilan.

2)        Konselor

Tugas utama konselor adalah menjadi terlibat dengan konselinya dan kemudia menghadapi konseli dengan mengusahakan agar konseli mengambil keputusan. Konselor bertuas melayani sebagai pembimbing untuk membantu konseli menaksir tingkahlaku mereka secara realistis. Konselor diharapkan memberi hadiah bila konseli berbuat dalam cara yang bertanggungjawab dan tidak menerima setiap penghindaran atas kenyataan atau tidak mengarahkan konseli menyalahkan setiap hal atau setiap orang. Beberapa kualitas pribadi yang harus dimiliki konselor adalah kemampuan untuk sensitif, untuk mencapai kebutuhan mereka secara terbuka, tidak untuk menerima ampunan, menunjukkan dukungan yang terus menerus dalam membantu konseli, untuk memahami dan mengempati konseli, dan untuk terlibat dengan tulus hati.

3)        Konseli

Dalam konseling realita, pengalaman yang perlu dimiliki oleh konseli adalah peran konseli memusatkan pada tingkah laku dalam proses konseling (konseli diharapkan memusatkan pada tingkah laku mereka sebagai ganti dari perasaan dan sikap-sikapnya), konseli membuat dan menyepakati rencana (ketika konseli memutuskn untuk bagaimana mereka ingin berubah, mereka diharapkan untuk mengembangkan rencana khusus untuk mengubah tingkah laku gagal ke tingkahlaku berhasil), konseli mengevaluasi tingkah lakunya sendiri, dan konseli belajar kecanduan positif (dalam hal ini Glasser mengungkapkan pentingnya belajar tanpa kritik dari orang lain dalam setiap usaha kita.

4)        Situasi Hubungan

Konseling realita didasarkan pada hubungan pribadi dan keterlibatan antara konseli dan konselor. Konselor dengan kehangatan, pengertian, penerimaan dan kepercayaan pda kapasitas orang untuk mengembangkan identitas berhasil, harus mengkomunikasikan dirinya kepada konseli bahwa dirinya membantu. Melalui keterlibatan ini, konseli belajar mengenai hidup daripada memusatkan pada mengungkap kegagalan dan tingkah laku yang tidak bertanggungjawab. Kunci konseling realita adanya kesepakatan/komitmen dalam membuat rencana dan melaksanakannya. Perencanaan yang telah dilakukan oleh konseli dinilai positif  jika ditulis dalam kontrak. Dalam konseling realita ditekankan tidak adanya ampunan/ no excuses ketika konseli tidak melaksanakan rencananya.

G.      MEKANISME PENGUBAHAN

1)        Tahap-tahap Konseling

Tahapan konseling realita adalah:

  1. Keterlibatan
  2. Anda adalah tingkah laku (berpusat pada tingkah laku sekarang)
  3. Belajar kembali (pertimbangan nilai, perencanan tingkah laku yang bertanggungjawab, kesepakatan)
  4. Evaluasi (tiada ampunan dan membatasi hukuman)

2)        Teknik-teknik Konseling  

Teknik-teknik yang digunakan dalam proses konseling realita adalah:

  1. Memperkuat tingkah laku

-          Shaping, adalah metode mengajarkan tingkahlaku dengan terus-menerus melakukan aproksimasi dan membuat rantai hubungan.

-          Behavioral contract, syarat mutlak untuk memantapkan kontrak behavioral adalah batasan yang cermat mengenai masalah konseli, situasi dimana hal itu diekspresikan dan kesediaan konseli untuk mencoba prosedur itu.

-          Assertive training, dapat diterapkan pada situasi-situasi interpersonal dimana individu yang mempunyai kesulitan perasaan sesuai atau tepat untuk menyatakannya.

  1. Modeling

Modeling digunakan untuk tujuan: mempelajari tingkahlaku baru, memperlemah atau memperkuat tingkahlaku yang siap dipelajari, dan memperlancar respon.

-          Proses mediasi, proses mediasi melibatkan atensi, retensi, reproduksi motorik dan insentif.

-          Live model dan symbolic model, Live model artinya model hidup, dan symbolic model artinya tingkah laku model ditunjukkan melalui film, video dan media rekaman lain.

-          Behavior rehearsal, dilakukan dalam suasana yang mirip dengan lingkungan nyata konseli.

-          Cognitive restructuring. Proses menemukan dan menilai kognisi seseorang, memahami dampak negative pemikiran tertentu terhadap tingkah laku dan belajar mengganti kognisi tersebut dengan pemikiran yang lebih realistic dan cocok.

-          Covert reinforcement, yaitu memakai imaji untuk menghadiahi diri sendiri.

  1. Melemahkan tingkah laku

-          Extinction, adalah mengurangi frekuensi terjadinya suatu tingkah laku dengan menghilangkan reinforcement.

-          Reinforcing incompatible behavior, memperkuat tingkah laku positif sehingga tingkah laku negative terkurangi dna hilang.

-          Relaxation training, biasanya digunakan untuk mengatasi tekanan/stress.

-          Systematic desensitization, prosedur ini digunakan untuk berbaga keadaan yang berhubungan dengan kecemasan, ketakutan dan reaks pobia.

-          Satiation, adanya reinforcement yang berlebihan sehingga menghilangkan fungsi sebagai penguat, melainkan sebaliknya.

B.       HASIL PENELITIAN

Hasil penelitian mengenai pengondisian mempengaruhi kepribadian, yang dalam hal ini dikemukakan stimulant tertentu meningkatkan sejumlah aktivtas tertentu. Sebuah ekperimen dilakukan untuk menguji apakah stimulant secara spesifik meningkatkan efek-efek penguat nikotin dan stimulant psikomotorik dapat meningkatkan aktivitas secara umum, merokok salah satunya. Setelah melakukan eksperimen pada beberapa orang dengan memberikan uang dan diminta untuk merokok. Kesimpulan dari eksperimen ini adalah  penguatan dapat mengubah nilai perilaku sepanjang waktu dan dalam kombinasi dengan stimulant lain. Dalam hal ini, nikotin dapat menjadi lebih menguatkan dalam kasis nikotin ketimbang hadirnya stimulan psikomotorik.

C.      KELEMAHAN DAN KELEBIHAN

Kelemahan:

  1. Teori ini mengabaikan tentang intelegensi manusia, perbedaan individu dan factor genetic lain.
  2. Dalam konseling kurang menekankan hubungan baik antara konselor dan konseli, hanya sekedarnya.
  3. Pemberian reinforcement jika tidak tepat dapat mengakibatkan kecanduan/ketergantungan.

Kelebihan:

  1. Asumsi mengenai tingkah laku merupakan hasil belajar.
  2. Asumsi mengenai kepribadian dipengaruhi oleh lingkungan dan kematangan.
  3. Konseling bertujuan untuk mempelajari tingkah laku baru sebagai upaya untuk memperbaiki tingkah laku malasuai.

D.      SUMBER RUJUKAN

Fauzan, Lutfi. 1994. Pendekatan-pendekatan Konseling Individual. Malang: Elang Mas

Feist, Jess dan Gregory J. Feist. 2008. Theories of Personality. Yogyakarta: Pustaka belajar.

Corey,Gerald. 2009. Theory and Practice of Counseling and Psychotherapy. Belmont,CA:Brooks/Cole

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s